Kamu Adalah Ketidakmungkinan yang Aku Semogakan. Pasangan yang Kuharap Kelak Bisa Mendampingi Di Masa Depan

iklan murah

Hai, kamu, iya kamu yang beberapa hari terakhir ini sedang sibuk memenuhi rongga kepalaku, apa kabarmu?
Iya, wajahmu memang tak pernah alpa hadir dan berdiam di sana, mungkin sudah cukup lama, entahlah aku tak begitu tahu kapan pastinya. Mungkin juga itu sebuah tanda bahwa kamu memiliki perasaan yang sama. Ah, semoga saja bukan sekedar angan kosong semata atau hanya fatamorgana belaka.

Sebenarnya perasaanku padamu ini merupakan sebuah rahasia. Aku tak memiliki cukup nyali untuk bertutur di hadapanmu, karena itulah sebabnya catatan pendek ini ada. Sekedar sarana untuk mengungkapkan apa yang aku rasa. Sekaligus ada berbagai rupa harapan yang tertimbun di dalamnya.

Aku dan kamu sudah saling mengenal lama namun tak ada yang berani beranjak menyerukan nuraninya. Meskipun kita tahu bahwa sebenarnya kita sama-sama saling menyimpan rasa.



Aku, kamu, sudah pernah menjalinkan tangan dan bergantian menyerukan nama, berkenalan. Jangan tanya aku kapan pertama kalinya kita berjumpa, karena sejujurnya aku pun sudah lupa. Tak ada yang istimewa di hari kita saling mengenal dan menyebut nama. Keistimewaan baru hadir setelah aku dan kamu menjalani sejumlah hari sebagai seorang kawan.

Sesungguhnya juga hari-hari yang kita lakoni tak ubahnya cerita perkawanan lainnya. Sesekali bercengkerama, banyak cerita, kemudian bertukar tawa. Namun, lama-kelamaan ada yang mulai tak sama, setidaknya itu yang kurasa. Sehari tidak bertemu denganmu rasanya seperti ada yang berbeda, hambar rasanya.

Coba kuingat lagi, sepertinya bukan hanya itu saja. Ah, iya, saat ada seorang kawan yang tengah menyebutkan namamu, telingaku pun mendadak siaga, bersiap mendengarkan dengan waspada. Rasa waspada yang memabukkan sepertinya. Karena kemudian disusul dengan ketuk-ketuk jantungku dengan irama yang kian tangkas.

Begitu pula saat kamu dan aku ada di tempat yang sama, tidak jarang kita akan bertukar tatap diam-diam. Yang kemudian membuat hati ini meremang karena kegirangan.

Di titik inilah aku pun menyadari, diam-diam cinta sudah menyelinap masuk sebelum sempat kucegah. Cinta juga memberitahuku bahwa dia telah lebih dulu berkunjung ke tempatmu.

Namun, kepongahan manusia yang gemar mengkotak-kotakkan sesamanya membuat kita turut terjebak di dalamnya. Meski tak sepenuhnya menerima, aku dan kamu divonis tak akan bisa bersama.



Jatuh cinta denganmu patut aku syukuri. Setidaknya aku tidak melabuhkan hati dengan orang asing. Aku sudah mengenalmu, pun cukup tahu dengan keseharianmu. Kepribadianmu yang apa adanya pun sudah kutelan dan kuresapi banyak-banyak.

Ya, tak ada yang salah jika cinta tumbuh dalam lingkar persahabatan. Namun, kemudian aku menyadari, bukan itu masalahnya. Ini bukan perkara aku jatuh hati pada teman sendiri. Masalah yang lebih besar sedang menunggu dan mengintip dalam diam. Kata orang-orang, aku dan kamu berbeda sehingga kita tidak bisa bersama. Cukup juga untuk membuat hati ayah ibu serta keluarga besar kita mengerutkan dahi dan mengelus dada.

Kepongahan manusialah yang kemudian membuat kita terjebak di bilik yang berbeda. Sebelum sempat menjadi kita, aku dan kamu sudah dijatuhi vonis bahwa kita tak akan mungkin bisa bersama.

Jurang perbedaan di antara kita dirasa terlalu lebar menganga. Mungkin itulah yang jadi penyebab utama – mengapa kita tak seharusnya menjalin hubungan cinta.



Perbedaan di antara kita benar-benar besar, setidaknya itu yang diucapkan oleh mereka. Di negara yang katanya menjunjung keberagaman, kita harus pasrah dan menyerah kalah ketika ternyata jatuh cinta pada orang yang berbeda, karena dianggap tak sepadan.

Ya, latar belakang turut berseru lantang sehingga dijadikan penentu dan acuan. Membuat kita bertekuk lutut karena ketidakberdayaan.

Kita tak bisa melebur hanya karena dianggap tak setara. Warna kulit yang beda, bentuk rambut yang tak serupa, hingga ukuran mata yang tak sama besarnya dijadikan perkara. Bahan pergunjingan, cemoohan, tatapan menghakimi adalah hadiah yang akan didapatkan.

Dengan lantang kuserukan omong kosong kepada ilmu sosial yang ditanamkan kepada kita sedari usia belia. Berkoar-koar bahwa kita haruslah menghargai perbedaan yang ada, namun kenyataan yang menampar selalu berkata sebaliknya. Kita tak diijinkan bersama dan dianggap tabu hanya karena berbeda suku.

Dibalik segala ketidakmungkinan yang ada di depan mata, namamu tetap saja tak pernah alpa kusisipkan dalam doa. Semoga kelak kita berani mengungkapkan rasa, demi memperbesar kemungkinan untuk bisa bersama.



Tak letih aku menceritakan kisah kita ketika sedang bercengkerama dengan si Empunya Semesta. Berharap semoga bumi ini tetap bulat bentuknya dan tak berubah menjadi kotak karena banyaknya sekat yang ada. Sekat yang mengatasnamakan agama, suku, kasta dan terus menerus dielu-elukan.

Semoga segera saja roboh dan luluh lantak, memperlebar jalan pikiran mereka yang terlalu banyak dihimpit pemahaman yang membuat sempit. Hingga pada akhirnya jalanku dan jalanmu akan segera terbuka, lapang.

Untukmu ketidakmungkinan yang tetap aku semogakan. Semoga pada akhirnya kita tetap memiliki masa depan.

0 Response to "Kamu Adalah Ketidakmungkinan yang Aku Semogakan. Pasangan yang Kuharap Kelak Bisa Mendampingi Di Masa Depan"

Post a Comment

Artikel Menarik Lain nya

Google +

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Kamu dapat berlangganan dan mendapatkan Artikel Terbaru dari e.com secara GRATIS hanya dengan memasukan alamat email address anda dibawah ini lalu pencet tombol SUBSCRIBE :

Delivered by FeedBurner